Opini : Eva Marina
Perempuan tangguh Eva Marina menilai bahwa peringatan Hari Kartini di Lahat masih menghadapi tantangan klasik: kuat dalam seremoni, namun belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan pemberdayaan perempuan di tingkat daerah.
Menurutnya, semangat Kartini kerap diperingati secara simbolik melalui kegiatan tahunan, tetapi belum diikuti dengan penguatan sistem yang mampu memastikan perempuan benar-benar memiliki akses setara terhadap pendidikan, ekonomi, dan ruang pengambilan keputusan.
Ia menyoroti bahwa perempuan di Lahat sebenarnya memiliki potensi besar, baik di sektor UMKM, pendidikan, maupun komunitas sosial. Namun, potensi tersebut masih sering terhambat oleh keterbatasan akses pelatihan, minimnya pendampingan berkelanjutan, serta belum optimalnya dukungan kebijakan yang berpihak pada penguatan kapasitas perempuan di tingkat akar rumput.
Lebih jauh, Eva menekankan bahwa di era digital saat ini, kesetaraan tidak lagi cukup dimaknai sebagai kehadiran perempuan dalam ruang publik, melainkan sejauh mana perempuan mampu beradaptasi, berdaya saing, dan berkontribusi dalam transformasi ekonomi dan informasi. Tanpa itu, semangat Kartini berisiko hanya menjadi narasi tahunan yang kehilangan daya dorong perubahan.
Meski demikian, ia tetap melihat adanya ruang optimisme. Menurutnya, dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku media, Lahat berpeluang melahirkan ekosistem pemberdayaan perempuan yang lebih konkret.
Namun, hal itu hanya bisa terwujud jika peringatan Hari Kartini tidak lagi diposisikan sebagai agenda simbolik, melainkan sebagai titik evaluasi untuk mengukur sejauh mana kesetaraan benar-benar berjalan di lapangan.









