Opini: Ibu Fida
Hari Kartini dan PR Panjang Kesetaraan yang Belum Selesai
Hari Kartini setiap tahun selalu dirayakan sebagai simbol kebangkitan perempuan Indonesia. Namun bagi Fida, seorang perempuan tangguh yang tumbuh di tengah realitas sosial yang keras, peringatan ini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan yang penuh ucapan selamat dan kebaya, melainkan momentum untuk bercermin: sudah sejauh mana hak-hak perempuan benar-benar terpenuhi?
Menurut Fida, terlalu sering narasi tentang Kartini berhenti pada romantisasi perjuangan masa lalu, tanpa cukup berani menatap kondisi hari ini. Di berbagai lapisan masyarakat, perempuan masih menghadapi ketimpangan yang nyata—mulai dari akses pendidikan yang belum merata, kesempatan kerja yang belum setara, hingga ruang aman yang masih sering dilanggar. “Kalau Kartini hidup hari ini, mungkin ia akan bertanya: mengapa perjuangan itu belum selesai?” begitu kira-kira refleksi kritis yang ia sampaikan.
Namun Fida juga menegaskan, kritik ini bukan untuk meruntuhkan semangat peringatan Hari Kartini, melainkan untuk menguatkannya. Negara dan masyarakat telah melangkah maju, tetapi langkah itu belum cukup cepat dan belum cukup adil bagi semua perempuan, terutama mereka yang berada di daerah terpencil dan kelompok rentan. Kesetaraan tidak cukup hanya tertulis dalam regulasi, tetapi harus hadir dalam praktik sehari-hari—di sekolah, tempat kerja, dan ruang publik.
Ia menilai, masih ada kecenderungan menjadikan perempuan sebagai simbol, bukan subjek penuh dalam pembangunan. Padahal, semangat Kartini sejatinya adalah keberanian untuk berpikir merdeka, bersuara, dan menentukan arah hidup sendiri. Di titik inilah, Fida mengajak agar Hari Kartini tidak berhenti pada perayaan, tetapi menjadi evaluasi bersama.
Dengan demikian, Hari Kartini tidak kehilangan maknanya. Justru ia menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Menghormati Kartini bukan hanya dengan mengenakan kebaya, tetapi dengan memastikan setiap perempuan Indonesia benar-benar merasakan hak yang setara, aman, dan bermartabat dalam kehidupan sehari-hari









