Bekasi,Sahabatsiber.co.id – Kota Bekasi boleh bangga jadi tuan rumah Porprov XV Jawa Barat 2026. Tapi di balik kebanggaan itu, ada pertanyaan besar yang belum terjawab: Kemana larinya anggaran puluhan miliar rupiah?
Pertanyaan tajam itu meledak dalam Dialog Pers yang digelar PWI Bekasi Raya, Rabu (4/11/206) di Aula Sekretariat PWI, Jalan Rawa Tembaga II, Margajaya, Bekasi Selatan.
Dengan tema “Pers Lokal Berdaya, Porprov Berjaya”, dialog ini berubah jadi ajang bongkar-bongkaran soal transparansi dan nasib media lokal.
Anggaran Gelap, Penjelasan Ngambang
Peserta dialog mencecar narasumber soal besaran anggaran, peruntukan, dan mekanisme penggunaannya. Sayangnya, jawaban yang keluar masih ngambang, belum ada rincian yang terang benderang.
Informasi yang beredar menyebut anggaran Porprov mencapai puluhan miliar rupiah. Tapi sampai sekarang, belum ada konfirmasi resmi yang bisa dipertanggungjawabkan ke publik.
Media Lokal Digantung, Wartawan Disuruh ke Media Center
Soal pelibatan media, Sekretariat PB Porprov lewat Ika hanya bilang wartawan bisa datang ke Media Center untuk ambil press release dan foto.
Soal kerja sama publikasi dipertanyakan
Media lokal pun masih digantung. Apa syaratnya? Bagaimana tahap penawarannya? Apa kriteria seleksinya? Semua belum jelas.
Bahkan beredar ID Card kategori “PERS” dengan keterangan “Media Sosial OPD”. Ika menyebut penerbitan ID Card untuk non-wartawan diperbolehkan. Pers pun menuntut kejelasan standar kategori, fungsi, dan akses peliputan agar tidak rancu.
Gaung Tuan Rumah Tak Terasa
Tokoh masyarakat Bekasi, Baba Damin Sada, ikut menyentil keras. Menurutnya, gaung Bekasi sebagai tuan rumah belum terasa sama sekali.
“Baliho sepi, spanduk sepi, sosialisasi minim. Masyarakat harusnya tahu dan bangga kotanya jadi tuan rumah,” sindirnya.
Damin juga mempertanyakan anggaran puluhan miliar itu. Harusnya berdampak nyata, minimal untuk sosialisasi, promosi, budaya lokal, kesenian, dan UMKM Bekasi. Jangan sampai Porprov hanya jadi ajang seremoni, budaya Bekasi malah tenggelam.
Ketua PWI Bekasi Raya Kami Bukan Penonton
Puncaknya, Ketua PWI Bekasi Raya Ade Muksin, S.H., menegaskan sikap.
“PWI tidak minta diistimewakan. Kami hanya minta ruang, akses, kesempatan, dan penghargaan yang proporsional. Wartawan lokal bukan penonton di rumahnya sendiri,” tegas Ade Muksin dengan nada tinggi.
Menurutnya, pers siap mendukung suksesnya Porprov, tapi dukungan itu harus dibalas dengan keterbukaan informasi dan penghormatan terhadap independensi jurnalistik.
KESIMPULAN
Porprov bukan cuma soal medali dan pertandingan. Kalau anggaran tidak transparan, pers lokal dipinggirkan, dan masyarakat tidak merasakan manfaatnya, maka Porprov gagal meski secara acara sukses.
Bekasi jadi tuan rumah, tapi keterbukaan jangan cuma jadi slogan. Publik berhak tahu. (Ryn)










