Rachmat Aqbar S.H., M.K.n : Jalan Hidup yang Memilihkan Hukum
Saya tidak pernah bermimpi menjadi seorang jaksa
Sejak awal, dunia hukum bukanlah tujuan hidup saya.
Ayah saya seorang pengacara. Mungkin justru karena itu, saya ingin menjauh dari bayang-bayang hukum. Saya membayangkan masa depan di dunia pertambangan—dunia lapangan, dunia teknis, jauh dari ruang sidang yang pengap, berkas perkara, dan palu hakim. Saya ingin hidup yang berbeda dari apa yang setiap hari saya lihat pada diri ayah.
Namun hidup sering kali berjalan dengan kehendaknya sendiri.
Entah mengapa, setiap kali mengikuti tes—ke mana pun dan apa pun—saya selalu “ditarik” ke bidang hukum. Seolah ada tangan tak terlihat yang terus mendorong saya kembali ke jalur yang sejak awal ingin saya hindari. Semakin saya menjauh, semakin kuat ia memanggil.
Sejak muda, saya telah melihat wajah hukum dari jarak yang sangat dekat
Saya menjadi saksi sengketa Pemilu Wali Kota Bengkulu. Suasana sidang kala itu masih terpatri jelas dalam ingatan saya: tegang, panas, penuh emosi. Di Bengkulu, pada masa itu, masyarakat yang hadir di persidangan bahkan ada yang membawa senjata tajam. Hukum bukan sekadar pasal dan aturan; ia hidup di tengah konflik sosial yang nyata, rapuh, dan mudah meledak.
Setiap kali ayah bersidang, saya menyaksikan sendiri bahwa hukum adalah medan pertarungan. Bukan hanya pertarungan argumen, tetapi juga harga diri, kekuasaan, dan nasib manusia.
Setelah tamat kuliah, arah hidup justru terasa semakin kabur. Saya bingung. Pernah ada tawaran menjadi PNS—jalan yang aman, pasti, dan stabil. Namun hati saya belum benar-benar menetap. Ada kegelisahan yang tak bisa dijelaskan.
Saya terus mengikuti berbagai tes, termasuk ketika masih menempuh pendidikan di UGM Yogyakarta. Hingga pada satu titik, hidup memberi pukulan paling keras: ayah saya meninggal dunia.
Sejak saat itu, saya tidak lagi hanya seorang mahasiswa. Saya menjadi tulang punggung keluarga. Tanggung jawab datang terlalu cepat. Saya harus menopang ekonomi keluarga, apa pun caranya.
Tidak ada gengsi dalam bertahan hidup
Saya bekerja apa saja yang halal. Pernah menjadi driver Grab, menyusuri Jakarta siang dan malam, menukar waktu, tenaga, dan lelah demi dapur yang tetap mengepul. Saya menumpang hidup di rumah kawan—belajar tentang arti persahabatan, keterbatasan, dan solidaritas dalam satu waktu.
Tahun 2019, saya menyelesaikan pendidikan S2. Di titik itu, saya sempat berpikir untuk masuk dunia politik, menjadi anggota dewan. Saya ingin memperjuangkan sesuatu dari ruang kebijakan, mengubah keadaan lewat regulasi dan keputusan.
Namun sekali lagi, hidup memilihkan jalan lain.
Tahun 2020, saya mendaftar tes Jaksa di Kejaksaan Agung RI. Saat itu kondisi ekonomi saya masih jauh dari mapan. Di kepala saya hanya ada satu pertanyaan sederhana: bagaimana caranya saya bertahan hidup dan tetap bertanggung jawab pada keluarga?
Saya mengikuti seluruh proses tes tanpa uang, tanpa jalan pintas, tanpa lobi—berbeda dengan isu-isu yang sering beredar. Saya hanya membawa keyakinan, doa, dan kejujuran.
Alhamdulillah, saya lulus.
Di situlah saya mulai berdamai dengan takdir. Jalan hukum yang sejak awal terasa asing, ternyata adalah jalan yang perlahan saya pahami maknanya. Bukan sekadar profesi, tetapi pengabdian.
Saya pertama kali meniti karier sebagai calon jaksa di Kejaksaan Negeri Kutai Barat, di bawah Kejaksaan Tinggi Provinsi Kalimantan Timur. Dari sana, saya dipindahkan ke Kejaksaan Negeri Halmahera Utara, wilayah Kejaksaan Tinggi Maluku Utara, dan resmi menjalankan tugas sebagai jaksa.
Di Maluku Utara, saya merasakan langsung bagaimana hukum benar-benar bersentuhan dengan gejolak sosial. Saya pernah bersidang sebagai Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Maluku Utara, menangani perkara penganiayaan, pengrusakan, hingga pembunuhan. Pada salah satu persidangan, tiga truk massa datang ke pengadilan. Tekanan begitu nyata. Ancaman bukan sekadar kemungkinan—ia berdiri tepat di depan mata.
Di ruang sidang itulah saya kembali diingatkan: hukum bukan pekerjaan yang steril. Ia penuh risiko, emosi.









