“Ada orang yang menua karena usia, ada pula yang tetap muda karena satu hal sederhana: masih mau berlari mengejar bola, meski tahu tak selalu mencetak gol.”
Lahat – Di sebuah kawasan yang namanya terdengar seperti program nasional, Penghijauan Bandar Jaya, Kabupaten Lahat, tinggallah seorang aparatur sipil negara yang hidupnya berjalan normal seperti PNS pada umumnya. Pagi masuk kantor, siang rapat, sore pulang, malam istirahat. Tapi jangan salah. Di balik kemeja rapi dan sepatu pantofel yang patuh pada aturan kedinasan, bersemayam jiwa lain yang sulit diatur oleh jam kerja: jiwa sepak bola.
Namanya Aidil Fitri, SE, MM. Namun, memanggilnya dengan nama lengkap terasa terlalu resmi, terlalu lurus, dan terlalu birokratis. Dunia lebih mengenalnya dengan nama Riyo Funky, sebuah nama yang terdengar seperti gelandang Brasil tapi nasibnya lebih sering jadi striker kampung. Riyo adalah PNS di Kantor Agraria Nasional Lahat, tapi jika sudah bicara soal bola, status kepegawaian otomatis gugur. Yang tersisa hanyalah manusia biasa dengan satu misi hidup: mengejar bola, meski sering tak kesampaian mencetak gol.
Ketika ditanya sejak kapan ia menyukai sepak bola, Riyo menjawab dengan kejujuran polos yang nyaris filosofis,
“Sejak dari saya tau bahwa menendang bola dan masuk ke gawang lawan itu adalah kenikmatan yang tiada duanya.”
Sebuah pernyataan yang mungkin akan membuat filsuf Yunani berhenti berpikir dan langsung ikut main bola. Bagi Riyo, sepak bola bukan soal taktik, formasi, atau analisis statistik. Sepak bola adalah soal satu hal sederhana: menendang dan mencetak gol. Jika itu terjadi, dunia terasa baik-baik saja. Jika tidak? Ya, lari dulu saja.
Momen pertamanya jatuh cinta pada sepak bola pun tidak kalah heroik. Bukan final piala dunia, bukan derby besar Eropa, melainkan pertandingan melawan tim teman sendiri, dan yang paling penting: tim Riyo menang. Di situlah ia belajar satu pelajaran penting tentang sepak bola: cinta pertama selalu datang bersama kemenangan.
Menariknya, tidak ada tokoh yang secara khusus mengenalkan sepak bola padanya. Tidak ada ayah yang memaksa latihan sejak kecil, tidak ada paman mantan pemain Persija, tidak ada guru olahraga yang galak. Semua murni dari inisiatif sendiri. Riyo melihat bola, Riyo menendang bola, dan sejak itu hidupnya tak pernah sama.
Dulu, cara Riyo menikmati sepak bola sangat klasik: bermain di lapangan kampung. Tidak ada nonton bareng di kafe, tidak ada layar lebar, apalagi streaming HD. Yang ada hanyalah tanah lapang, gawang dari sandal atau batu, dan perdebatan abadi soal “tadi gol atau belum?”
Di sanalah Riyo membentuk mentalnya. Di sanalah ia belajar bahwa terjatuh itu biasa, bangkit itu wajib, dan selebrasi itu harus berlebihan meski golnya hasil defleksi kaki lawan.
Dan dari lapangan kampung itulah pula ia akhirnya menjatuhkan pilihan hatinya pada sebuah klub raksasa Eropa: Real Madrid.
Kenapa Real Madrid? Alasannya sederhana dan jujur:
“Keren aja.”
Sebuah jawaban yang tidak bisa dibantah dengan logika apa pun. Karena dalam urusan cinta, termasuk cinta pada klub bola, “keren aja” sudah lebih dari cukup.
Ia tak ingat pasti sejak kapan mendukung klub tersebut. Yang jelas, sudah cukup lama. Lama sampai-sampai begadang nonton pertandingan jam dua pagi terasa lebih masuk akal daripada tidur cepat demi produktivitas esok hari.
Riyo termasuk tipe pendukung setia. Setia begadang, setia mengantuk, dan setia menahan kantuk di kantor keesokan harinya sambil berpura-pura segar. Jika Real Madrid bermain tengah malam, maka jam biologis harus menyesuaikan. Tidur bisa ditunda, tapi bola tidak.
Ia mengaku pernah merasakan momen paling bahagia sekaligus paling menyakitkan karena klub favoritnya. Detailnya tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Cukup dengan satu kata:
“Pernah….”
Karena penggemar sepak bola sejati tahu, ada luka yang tidak perlu diceritakan. Cukup dirasakan, lalu disembuhkan dengan nonton pertandingan berikutnya.
Jika bicara pemain favorit sepanjang masa, Riyo tidak ragu: Cristiano Ronaldo alias CR7. Yang dikagumi? Skill. Murni skill. Bukan gaya hidup, bukan fashion, bukan abs. Skill.
Apakah gaya bermain Riyo terinspirasi dari CR7?
“Pengen sih… tapi nggak bisa, hehehe.”
Sebuah pengakuan jujur yang menyelamatkan banyak orang dari ekspektasi berlebihan. Riyo ingin seperti CR7, tapi realitanya lebih sering seperti “CR…lari dulu.”
Jika suatu hari bisa bertemu langsung dengan sang idola, ia tidak meminta tips latihan, tidak meminta jersey, tidak minta ditraktir. Ia hanya ingin satu hal yang sangat manusiawi: minta foto secara langsung. Karena foto itu kelak bisa jadi bukti bahwa mimpi kadang boleh sederhana.
Bagi Riyo, sepak bola punya makna yang sangat praktis dalam hidup: bikin sehat, menambah semangat, dan, yang paling penting, buat awet muda. Ia bahkan menolak anggapan bahwa sepak bola adalah pelarian dari masa sulit. Menurutnya, sepak bola justru selalu identik dengan masa bahagia. Tidak ada drama, yang ada hanya keringat, tawa, dan napas tersengal.
Dari sepak bola pula ia belajar banyak hal: kesabaran saat tidak dapat umpan, ketenangan saat lawan emosi, dan tentu saja… selebrasi. Karena selebrasi adalah seni yang tidak diajarkan di bangku kuliah.
Sepak bola memengaruhi cara ia bersikap. Tentang kerja sama, tentang menerima kalah-menang, dan tentang disiplin, meski disiplin datang ke lapangan kadang masih bisa dinegosiasikan.
Saat ini, Riyo masih cukup sering bermain bola, sekitar dua kali seminggu. Posisi favoritnya? Striker, tentu saja. Alasannya mulia: karena ia paling suka mencetak gol.
Namun, realita kadang kejam. Sensasi yang paling sering ia rasakan di lapangan bukan mencetak gol, melainkan… berlari. Nalurinya ingin gol, tapi apa daya, yang didapat hanya cardio gratis.
Usia dan kesibukan sama sekali tidak mengubah caranya menikmati sepak bola. Baginya, usia boleh menua, pekerjaan boleh padat, tapi bermain bola tidak boleh berhenti selagi masih bisa berlari. Dan jika suatu hari nanti ia tak bisa lagi bermain, yang paling ia rindukan bukanlah gol, melainkan foto tim dan selebrasi, bukti bahwa ia pernah ada di lapangan, pernah berjuang, dan pernah terjatuh karena sliding keras yang berujung cedera engkel.
Kini, Riyo bermain bersama komunitas Mabol Yuk!. Bermain bersama teman-teman baginya adalah tentang kebersamaan, keseruan, dan rasa kekeluargaan. Sensasinya jauh berbeda dibanding menonton di layar. Karena di lapangan, ia bisa merasakan langsung kepuasan menggocek, mengolongi lawan, dan kemudian… kehilangan bola lagi.
Jika sepak bola harus digambarkan dalam satu kata, Riyo memilih: bergairah. Dan memang begitulah adanya. Sepak bola tidak pernah benar-benar lepas dari hidup banyak orang karena ia asik, menyenangkan, dan selalu memberi alasan untuk berkumpul.
Pesan Riyo untuk generasi muda sederhana namun tulus:
“Tetaplah bersemangat dan teruslah ukir prestasi.”
Karena di balik setiap lari tanpa gol, selalu ada semangat yang tidak pernah padam. Dan di balik setiap Riyo Funky, selalu ada cinta pada sepak bola yang tak bisa dijelaskan, selain dengan satu kalimat sederhana: keren aja. (Aan)









