Menu

Mode Gelap
How To Handle Every Movie Challenge With Ease Using These Tips The Most Influential People in the Green House Industry and Their Celebrity Dopplegangers Technology Awards: 6 Reasons Why They Don’t Work & What You Can Do About It

News · 18 Feb 2026 18:10 WIB ·

Kurikulum Tanpa Jiwa: Alarm dari Seorang Guru Purnabakti


 Kurikulum Tanpa Jiwa: Alarm dari Seorang Guru Purnabakti Perbesar

Oleh: Via Arzani

Lahat, Sahabatsiber.co.id — Ada masa ketika guru adalah institusi moral berjalan.
Ada masa ketika ruang kelas adalah ruang pembentukan karakter, bukan sekadar pabrik nilai rapor.

Kini, menurut Sri Lesmana, S.Pd.I., pensiunan tenaga pendidik, pendidikan di Kabupaten Lahat justru tampak seperti kurikulum tanpa jiwa—lengkap di atas kertas, rapuh di praktik.

“Karakter guru zaman dahulu sangat berbeda dengan guru zaman sekarang,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar seperti nostalgia. Padahal, ia lebih menyerupai alarm peradaban.

Guru dan Jam Mengajar: Ketika Waktu Menjadi Tuhan

Dulu, guru mengajar karena panggilan.
Kini, jam mengajar menjadi kitab suci birokrasi.
Guru datang, absen, masuk kelas, keluar kelas, lalu pulang—karena sistem menuntut jam, bukan jiwa.

Mengajar berubah menjadi transaksi administratif: jam masuk dibayar, karakter siswa tidak selalu menjadi tujuan.
Sri Lesmana menegaskan, guru harus ditempa, bukan sekadar dilatih.
Pendidik bukan produk instan workshop dua hari dan sertifikat bertumpuk di folder PDF.

Kompetensi vs Karakter: Dua Hal yang Terpisah di Sistem

Kompetensi tanpa karakter melahirkan guru pintar tapi dingin. Karakter tanpa kompetensi melahirkan guru baik tapi salah arah.
Namun yang sering terjadi:
keduanya absen—digantikan modul, template, dan laporan kinerja.
Mengajar lalu menjadi rutinitas, bukan lagi ritual peradaban.

Generasi Bangsa: Target Kurikulum atau Proyek Sejarah?

“Jam bukan patokan,” kata Sri Lesmana.
Kalimat ini terdengar heretis di telinga birokrasi pendidikan modern.

Namun esensinya jelas: tujuan pendidikan bukan memenuhi jam kerja, melainkan mencetak manusia yang tahu malu, tahu batas, dan tahu arti bangsa.

Karakter tidak lahir dari RPP.
Karakter lahir dari teladan.
Dan teladan tidak lahir dari jadwal, tapi dari kesadaran.

Satir Pahit Pendidikan

Kita mungkin sukses membangun sekolah, tetapi lupa membangun guru.
Kita mungkin mencetak raport digital, tetapi gagal mencetak manusia analog yang punya nurani.
Di negeri ini, karakter sering dijadikan slogan di spanduk, bukan praktik di ruang guru.

Profil Narasumber

Sri Lesmana mengabdi sebagai tenaga pendidik sejak 1990 hingga Februari 2025. Dikenal idealis dan kritis, ia tidak segan menyuarakan kritik ketika melihat penyimpangan dalam dunia pendidikan.

Catatan Pers

Tulisan ini merupakan opini berdasarkan pernyataan narasumber dan merupakan kritik konstruktif sesuai Pasal 3 UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers serta prinsip kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

Baca Lainnya

Kadispora Lahat Hasperi Susanto “Gaspol” Bangun Sinergi, Awali Langkah dengan Silaturahmi Strategis

23 April 2026 - 21:32 WIB

Disdikbud Lahat Lepas Hasperi Susanto, Niel Aldrin: Dedikasi Tak Akan Terlupakan

23 April 2026 - 20:52 WIB

Kasi Datun Ahmad Muzayyin Pimpin Pemulihan Rp1,6 Miliar, Kejari Lahat Dampingi PUPR Tuntaskan Temuan BPK

23 April 2026 - 13:57 WIB

Diduga Tak Sebanding Anggaran, Kontraktor MPP Lahat Disebut “Alergi” Wartawan

23 April 2026 - 11:50 WIB

Polres Lahat Resmikan Kedai APDOL, Dorong Ekonomi Kreatif Driver Ojek

23 April 2026 - 09:52 WIB

Tongkat Komando Dandim 0405/Lahat Berganti, Suasana Hangat Warnai Pisah Sambut di Pendopo Bupati

22 April 2026 - 23:27 WIB

Trending di News
error: Content is protected !!