Oleh: Via Arzani
Lahat, Sahabatsiber.co.id — Ada masa ketika guru adalah institusi moral berjalan.
Ada masa ketika ruang kelas adalah ruang pembentukan karakter, bukan sekadar pabrik nilai rapor.
Kini, menurut Sri Lesmana, S.Pd.I., pensiunan tenaga pendidik, pendidikan di Kabupaten Lahat justru tampak seperti kurikulum tanpa jiwa—lengkap di atas kertas, rapuh di praktik.
“Karakter guru zaman dahulu sangat berbeda dengan guru zaman sekarang,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar seperti nostalgia. Padahal, ia lebih menyerupai alarm peradaban.
Guru dan Jam Mengajar: Ketika Waktu Menjadi Tuhan
Dulu, guru mengajar karena panggilan.
Kini, jam mengajar menjadi kitab suci birokrasi.
Guru datang, absen, masuk kelas, keluar kelas, lalu pulang—karena sistem menuntut jam, bukan jiwa.
Mengajar berubah menjadi transaksi administratif: jam masuk dibayar, karakter siswa tidak selalu menjadi tujuan.
Sri Lesmana menegaskan, guru harus ditempa, bukan sekadar dilatih.
Pendidik bukan produk instan workshop dua hari dan sertifikat bertumpuk di folder PDF.
Kompetensi vs Karakter: Dua Hal yang Terpisah di Sistem
Kompetensi tanpa karakter melahirkan guru pintar tapi dingin. Karakter tanpa kompetensi melahirkan guru baik tapi salah arah.
Namun yang sering terjadi:
keduanya absen—digantikan modul, template, dan laporan kinerja.
Mengajar lalu menjadi rutinitas, bukan lagi ritual peradaban.
Generasi Bangsa: Target Kurikulum atau Proyek Sejarah?
“Jam bukan patokan,” kata Sri Lesmana.
Kalimat ini terdengar heretis di telinga birokrasi pendidikan modern.
Namun esensinya jelas: tujuan pendidikan bukan memenuhi jam kerja, melainkan mencetak manusia yang tahu malu, tahu batas, dan tahu arti bangsa.
Karakter tidak lahir dari RPP.
Karakter lahir dari teladan.
Dan teladan tidak lahir dari jadwal, tapi dari kesadaran.
Satir Pahit Pendidikan
Kita mungkin sukses membangun sekolah, tetapi lupa membangun guru.
Kita mungkin mencetak raport digital, tetapi gagal mencetak manusia analog yang punya nurani.
Di negeri ini, karakter sering dijadikan slogan di spanduk, bukan praktik di ruang guru.
Profil Narasumber
Sri Lesmana mengabdi sebagai tenaga pendidik sejak 1990 hingga Februari 2025. Dikenal idealis dan kritis, ia tidak segan menyuarakan kritik ketika melihat penyimpangan dalam dunia pendidikan.
Catatan Pers
Tulisan ini merupakan opini berdasarkan pernyataan narasumber dan merupakan kritik konstruktif sesuai Pasal 3 UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers serta prinsip kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab.









