Menu

Mode Gelap
How To Handle Every Movie Challenge With Ease Using These Tips The Most Influential People in the Green House Industry and Their Celebrity Dopplegangers Technology Awards: 6 Reasons Why They Don’t Work & What You Can Do About It

News · 1 Feb 2026 14:58 WIB ·

Lobi, Silaturahmi, dan Kopi Pahit Bernama Demokrasi PWI


 Lobi, Silaturahmi, dan Kopi Pahit Bernama Demokrasi PWI Perbesar

Lahat,Sahabatsiber.co.id – Di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lahat, kata lobi kerap terdengar seperti bisik-bisik di sudut ruangan. Padahal, bagi Muchtarim, itu bukan barang haram—melainkan bagian dari denyut demokrasi yang tak pernah steril dari percakapan manusia.

Muchtarim, satu dari tiga calon Ketua PWI Lahat periode 2026–2029, dengan tenang menanggapi isu lobi-lobi menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) PWI Lahat yang akan digelar 12 Februari 2026 di Hotel Bukit Serelo. Sebanyak 48 suara akan diperebutkan. Angka yang cukup kecil untuk dihitung, tapi cukup besar untuk menguji kedewasaan.

Lelaki yang akrab disapa Tahrim ini tak menampik bahwa komunikasi dengan pemilih adalah keniscayaan. Bahkan, ia mengakui komunikasi itu juga terjalin dengan dua calon ketua lainnya. Bukan konspirasi, bukan transaksi—lebih mirip silaturahmi sambil meneguk kopi pahit, di mana semua tahu: hari ini bertarung, besok tetap satu meja.

“Yang dibicarakan justru apa yang terjadi setelah Konfercab,” kira-kira begitu nada sikap yang ia tunjukkan. Sebab bagi Tahrim, kontestasi bukan tentang siapa yang menang, tapi bagaimana semua kembali utuh ketika palu sidang diketuk.

Dalam logika ini, lobi bukan dosa, melainkan bahasa sosial. Yang berbahaya bukan percakapan, melainkan lupa bahwa setelah bendera diturunkan, yang tersisa hanyalah satu organisasi bernama PWI Lahat—bukan kubu, bukan dendam, apalagi warisan konflik.

Satirnya, di luar sana lobi sering dianggap tabu. Namun di sini, ia justru diperlakukan seperti jabat tangan sebelum dan sesudah pertandingan tinju: pukul boleh keras, tapi peluk tetap wajib.
Dan mungkin itulah kedewasaan yang sedang diuji PWI Lahat.

Bukan soal siapa yang mengumpulkan suara paling banyak, melainkan siapa yang siap menerima hasil—menang atau kalah—tanpa harus merobek baju persaudaraan.

Karena pada akhirnya, kursi ketua hanya satu. Tapi rumah PWI tetap harus ditempati bersama. (Ir22)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Baca Lainnya

Kadispora Lahat Hasperi Susanto “Gaspol” Bangun Sinergi, Awali Langkah dengan Silaturahmi Strategis

23 April 2026 - 21:32 WIB

Disdikbud Lahat Lepas Hasperi Susanto, Niel Aldrin: Dedikasi Tak Akan Terlupakan

23 April 2026 - 20:52 WIB

Kasi Datun Ahmad Muzayyin Pimpin Pemulihan Rp1,6 Miliar, Kejari Lahat Dampingi PUPR Tuntaskan Temuan BPK

23 April 2026 - 13:57 WIB

Diduga Tak Sebanding Anggaran, Kontraktor MPP Lahat Disebut “Alergi” Wartawan

23 April 2026 - 11:50 WIB

Polres Lahat Resmikan Kedai APDOL, Dorong Ekonomi Kreatif Driver Ojek

23 April 2026 - 09:52 WIB

Tongkat Komando Dandim 0405/Lahat Berganti, Suasana Hangat Warnai Pisah Sambut di Pendopo Bupati

22 April 2026 - 23:27 WIB

Trending di News
error: Content is protected !!