Lahat,Sahabatsiber.co.id – Di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lahat, kata lobi kerap terdengar seperti bisik-bisik di sudut ruangan. Padahal, bagi Muchtarim, itu bukan barang haram—melainkan bagian dari denyut demokrasi yang tak pernah steril dari percakapan manusia.
Muchtarim, satu dari tiga calon Ketua PWI Lahat periode 2026–2029, dengan tenang menanggapi isu lobi-lobi menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) PWI Lahat yang akan digelar 12 Februari 2026 di Hotel Bukit Serelo. Sebanyak 48 suara akan diperebutkan. Angka yang cukup kecil untuk dihitung, tapi cukup besar untuk menguji kedewasaan.
Lelaki yang akrab disapa Tahrim ini tak menampik bahwa komunikasi dengan pemilih adalah keniscayaan. Bahkan, ia mengakui komunikasi itu juga terjalin dengan dua calon ketua lainnya. Bukan konspirasi, bukan transaksi—lebih mirip silaturahmi sambil meneguk kopi pahit, di mana semua tahu: hari ini bertarung, besok tetap satu meja.
“Yang dibicarakan justru apa yang terjadi setelah Konfercab,” kira-kira begitu nada sikap yang ia tunjukkan. Sebab bagi Tahrim, kontestasi bukan tentang siapa yang menang, tapi bagaimana semua kembali utuh ketika palu sidang diketuk.
Dalam logika ini, lobi bukan dosa, melainkan bahasa sosial. Yang berbahaya bukan percakapan, melainkan lupa bahwa setelah bendera diturunkan, yang tersisa hanyalah satu organisasi bernama PWI Lahat—bukan kubu, bukan dendam, apalagi warisan konflik.
Satirnya, di luar sana lobi sering dianggap tabu. Namun di sini, ia justru diperlakukan seperti jabat tangan sebelum dan sesudah pertandingan tinju: pukul boleh keras, tapi peluk tetap wajib.
Dan mungkin itulah kedewasaan yang sedang diuji PWI Lahat.
Bukan soal siapa yang mengumpulkan suara paling banyak, melainkan siapa yang siap menerima hasil—menang atau kalah—tanpa harus merobek baju persaudaraan.
Karena pada akhirnya, kursi ketua hanya satu. Tapi rumah PWI tetap harus ditempati bersama. (Ir22)









